Featured Post 1

Senin, 02 Juni 2014

Mayoritas yang Tercela

Demokrasi identik dengan suara mayoritas. Suara mayoritas dipuja-puji sebagai suara kebenaran. Bahkan suara mayoritas (rakyat) identik dengan suara tuhan. Demikianlah klaim para pemuja dan penjaja demokrasi.
Namun, berkebalikan dengan demokrasi, Tuhan (Allah SWT) sendiri justru mencela suara mayoritas. Allah SWT mencela mayoritas manusia dalam puluhan ayat-Nya. Pasalnya, mayoritas manusia adalah kafir alias tidak beriman, fasik, tidak berpengetahuan, bodoh, tidak bersyukur, sesat dan menyesatkan, dst. 

Allah SWT, misalnya, berfirman (yang artinya): Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang jelas. Tak ada yang mengingkari ayat-ayat itu melainkan orang-orang yang fasik.  Patutkah (mereka mengingkar ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkan janji itu? Bahkan mayoritas dari mereka tidak beriman (TQS al-Baqarah [2]: 99-100).

Allah SWT juga berfirman (yang artinya): Mereka (orang-orang musyrik Makkah) berkata, "Mengapa tidak diturunkan kepada dia (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah, "Sesungguhnya Allah Mahakuasa menurunkan suatu mukjizat.” Namun, mayoritas mereka tidak mengetahui (TQS al-An’am [6]: 37).

Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Sekiranya Kami menurunkan malaikat kepada mereka dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, lalu Kami mengumpulkan pula segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi mayoritas mereka adalah bodoh (TQS al-Anam [6]: 111).

Allah SWT pun dalam banyak ayat-Nya yang lain berfirman di antaranya sebagai berikut (yang artinya):
(Setan berkata), “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati mayoritas mereka bersyukur (taat).” (TQS al-A’raf [7]: 17).

Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir. Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik (TQS al-A’raf [7]: 101-102).

Mayoritas manusia tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Mahatahu atas apa yang mereka kerjakan (TQS Yunus [10]: 35-36).

Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi mayoritas manusia tidak tahu (TQS Yunus [10]: 55).

Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi mayoritas dari mereka tidak bersyukur (TQS Yunus [10]: 60).

Mayoritas dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain) (TQS Yusuf [12]: 106).

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah, "Unjukkanlah hujjahmu! (Al-Quran) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku". Sebenarnya mayoritas dari mereka tiada mengetahui yang haq sehingga mereka berpaling (TQS al-Anbiya’ [21]: 24).

Terangkanlah kepada Aku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Ataukah kamu mengira bahwa mayoritas mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu) (TQS al-Furqan [25]: 44).

Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai karunia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi mayoritas dari mereka tidak bersyukur (TQS an-Naml [27]: 73).

Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah, "Segala pujian milik Allah." Akan tetapi, mayoritas dari mereka tidak memahami (TQS al-Ankabut [29]: 63).

Katakanlah, "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Mayoritas dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (TQS ar-Rum [30]: 42).

Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap mayoritas mereka, kerena mereka tidak beriman (TQS Yasin [36]: 7).

Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui; yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan. Akan tetapi, mayoritas dari mereka berpaling, tidak mau mendengarkan (TQS Fushshilat [41]: 1-4).

Masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah SWT mencela mayoritas atau sebagian besar manusia. Karena itu wajarlah jika Allah SWT mewanti-wanti kita agar tidak ikut-ikutan mengikuti mayoritas manusia karena kita bisa tersesat, bahkan jatuh pada kekufuran. Allah SWT berfirman (yang artinya): Jika kamu menuruti mayoritas orang-orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (TQS al-An’am [6]: 116).

Jika demikian masihkah kita ingin tetap mempraktikkan demokrasi dengan suara mayoritasnya yang sesungguhnya banyak dicela di dalam Alquran? [mediaumat.com/abi] 

Hakikat Ukhuwah Islamiyah (Bagian I)

Allah SWT berfirman (yang artinya): Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Terkait ayat di atas, Imam Ali ash-Shabuni dalam Shafwah at-Tafasir antara lain menyatakan: hanya antara sesama Muslim persaudaraan itu ada, tidak antara Muslim dan kafir; persaudaraan karena faktor keimanan adalah jauh lebih kuat daripada persaudaraan karena faktor hubungan darah.

Hal ini sebagaimana juga ditegaskan oleh Baginda Rasulullah SAW, “Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya.” (HR al-Hakim).

Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam hal kasih sayang, sikap welas asih dan lemah-lebut mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dan demam.” (HR Abu Dawud).

Baginda Rasulullah SAW juga pernah bersabda, sebagaimana penuturan Bara’ bin ‘Azib, “Baginda Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara pula. Beliau memerintahkan kami untuk: menjenguk orang sakit; mengiringi jenazah (ke kuburan); mendoakan orang yang bersin; membenarkan sumpah; menolong orang yang terzalimi; memenuhi undangan; dan menebarkan salam...” (HR al-Baihaqi).

Bahkan sekadar mengunjungi seorang Muslim, hal demikian merupakan amal perbuatan yang amat terpuji. Tsauban menuturkan bahwa Baginda  Rasulullah SAW  pernah bersabda, “Sesungguhnya seorang Muslim itu, jika mengunjungi saudaranya, berarti selama itu ia berada di taman surga.” (HR Muslim).

Ali ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Tidaklah seorang Muslim mengunjungi Muslim yang lain pada pagi hari, kecuali seribu malaikat mendoakan dirinya hingga sore hari. Jika ia mengunjungi Muslim yang lain pada siang hari, seribu malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari.” (HR at-Tirmidzi).

Karena bersaudara, di antara kaum Mukmin haram saling mencela, menyakiti, apalagi saling membunuh. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, sementara membunuhnya adalah kekufuran.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Haram pula di antara sesama Mukmin saling menzalimi dan saling tidak peduli. Sebaliknya, mereka wajib untuk saling membantu dan tolong-menolong dengan saling menghilangkan kesulitan, bahkan sekadar menutup aib saudaranya. Rasulullah SAW pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Ibn Umar, “Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling menzalimi dan saling membiarkan. Siapa saja yang menghilangkan suatu kesulitan dari seorang Muslim, maka Allah SWT akan menghilangkan kesulitan bagi dirinya di antara berbagai kesulitan pada Hari Kiamat kelak. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah pasti akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat nanti.” (Muttafaq a’laih).

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra. “Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling mengkhianati, saling mendustakan dan saling menghinakan. Setiap Muslim adalah haram bagi Muslim yang lain menyangkut kehormatan, harta dan darahnya.” (HR at-Tirmidzi).

Bahkan dalam sebuah hadits qudsi, ketidakpedulian seorang Muslim terhadap Muslim lainnya seolah-olah disamakan dengan ketidakpedulian terhadap Allah SWT. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Baginda Rasululullah SAW pernah bersabda: Sesungguhnya Allah SWT berkata pada Hari Kiamat nanti, “Wahai manusia, Aku pernah sakit. Mengapa engkau tidak menjenguk Aku.” Manusia menjawab, “Tuhanku, bagaimana aku menjenguk Engkau, sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allah SWT berkata, “Bukankah engkau dulu tahu hamba-Ku si fulan pernah sakit di dunia, tetapi engkau tidak menjenguknya? Bukankah engkau pun tahu, andai engkau menjenguk dia, engkau akan mendapati Diri-Ku di sisinya? Wahai manusia, Aku pernah meminta makan kepada engkau di dunia, tetapi engkau tidak memberi Aku makan.” Manusia menjawab, “Tuhanku, bagaimana aku memberi Engkau makan, sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allah SWT menjawab, “Bukankah engkau tahu, hamba-Ku pernah meminta makan kepada engkau, tetapi engkau tidak memberi dia makan? Bukankah andai engkau memberi dia makan, engkau mendapati Diri-Ku ada di situ?” Wahai manusia, Aku pernah meminta minum kepada engkau, tetapi engkau tidak memberi Aku minum?” Manusia berkata, “Tuhanku, bagaimana aku memberi Engkau minum, sementara engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allah SWT menjawab, “Bukankah engkau tahu, hamba-Ku pernah meminta makan kepada engkau di dunia, tetapi engkau tidak memberi dia makan? Bukankah andai engkau memberi dia makan, engkau mendapati Diri-Ku ada di situ?” (HR Muslim).

Beliau pernah bersabda, “Tolonglah saudaramu, baik pelaku kezaliman maupun korban yang dizalimi.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, saya menolongnya jika ia dizalimi. Lalu bagaimana saya harus menolong orang yang melakukan kezaliman?” Rasul menjawab, “Cegahlah dia dari berlaku zalim. Itulah bentuk pertolongan kamu kepadanya.” (HR al-Bukhari).

Pastinya, persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) itu bersifat universal; lintas etnik, suku/bangsa, bahasa; juga lintas daerah, negara bahkan benua.
Wama tawfiqi illa bilLah. [] abi

Kamis, 01 Mei 2014

Ya Allah, Negeriku dalam Darurat Kekerasan Seksual!

Tiga tahun terakhir, kasus kekerasan pada anak mencapai angka yang mencengangkan. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat kasus kekerasan terhadap anak terus saja meningkat.
Bahkan, pada 2012-2013 Komnas PA mencatat ada 3.023 kasus pelanggaran hak anak di Indonesia dan 58% atau 1.620 anak menjadi korban kejahatan seksual.
Baru-baru ini saja, kasus yang terangkat dan banyak dijadikan perbincangan, yaitu kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan lebih dari seorang pekerja outsourcing dan tenaga pengajar asing terhadap siswa TK di salah satu sekolah internasional di Jakarta, Jakarta International School (JIS).
Tindakan keji para pedofilian tersebut tak hanya meninggalkan beban fisik namun lebih parah lagi adalah beban psikis yang tentu saja mempengaruhi seluruh aspek kehidupan para korban dan berdampak besar pada masa depan mereka.
Pangamat Psikologi Universitas Indonesia (UI), Fitriani F Syahrul menjelaskan bahwa pelecehan seksual pada anak mengakibatkan anak mengalami gangguan paranoid, trauma berkepanjangan. Sering kali yang mengalami trauma seperti itu ketika dewasa mereka bermasalah terkait hubungan dengan lawan jenis.
Bahkan mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang apatis. Selain itu seperti yang telah terjadi di negara berkembang perilaku seks anak korban kekerasan akan menyimpang dan menjurus ke pergaulan bebas sehingga penyebaran penyakit kelamin hingga HIV terus menjangkit. Apalagi jika mereka tidak mendapat penanganan yang baik dan kurang penanaman nilai religiusitas, maka sangat mungkin kelak dirinya akan mempraktikkan tindakan tersebut alias menjadi pedofil.
Tidak peduli posisi mereka di masyarakat. Terkadang para pelaku adalah orang terdekat sendiri. Kasus yang terjadi di JIS telah menampar kita. Bahwa di kawasan yang seharusnya menjadi tempat anak menimba ilmu malah menjadi sarang harimau. Apalagi diduga salah satu pelaku adalah staf pengajar berkewarganegaraan asing.
Di luar dari kelainan psikologi yang diidap para tersangka, ada dugaan bahwa WNA tersebut merupakan agen yang dikirim oleh pihak asing untuk menghancurkan negara dengan merusak mental anak bangsanya. Sungguh perilaku yang keji.
Terlepas dari fakta adanya misi terselubung dibalik rentetan kejahatan ini, perilaku kejahatan seksual tidak pernah terpisah dari maraknya pornografi dan pornoaksi. Stimulus yang diterima otak dari bentuk-bentuk pornografi dan pornoaksi tersebut telah dibuktikan oleh para ahli dapat menyebabkan kerusakan pada bagian otak. Selain itu, hormon dopamine yang dihasilkan menyebabkan efek ketagihan dalam level yang lebih tinggi sehingga pada tahap akhir seseorang terangsang untuk melakukan aksi.
Menurut psikolog Elly Risman, dengan mengonsumsi produk-produk tersebut secara berangsur-angsur kita sedang dalam proses transformasi menjadi hewan.
Pemerintah seharusnya mengerti betul akan hal tersebut. Seperti yang dikataka Elly, selama ini pornografi dan pornoaksi hanya dipandang sebagai penyakit sehingga yang menjadi rujukan adalah obat. Namun sayangnya obat seperti apa yang diperlukan? Seharusnya negara memandang hal tersebut sebagai bencana, sehingga yang diperlukan adalah melakukan aksi penjagaan dan antisipasi.
Dalam pandangan Islam, tentu saja tidak ada toleransi untuk segala bentuk pornografi dan pornoaksi karena jelas telah ditetapkan batasan-batasan aurat bagi semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Sehingga kerusakan otak akibat hal tersebut dapat dihilangkan. Islam pun menjaga wanita dan anak-anak aman di dalam rumah, seperti yang disabdakan Rosululloh Shalallallahu ‘alaihi wassallam, yang artinya: ” Siapa saja yang mengarahkan pandangannya (mengintip) ke dalam rumah orang lain tanpa seizin penghuninya, berarti ia telah benar-benar menghancurkannya.”  Islam pun menjaga wanita dan anak-anak di luar rumah dengan menyuruh mereka menutupi auratnya.
Saat ini sanksi bagi para pelaku kejahatan seksual pada anak tidaklah sepadan. Dengan kurungan belasan tahun tidaklah cukup untuk menebus kerusakan yang ditimbulkan untuk seumur hidup. Buktinya hingga saat ini hukuman yang dijatuhkan tidak sedikit pun memberikan efek jera bahkan jumlah kejahatan yang terjadi terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari sisi ini, maka negara beserta sistem yang digunakannya telah gagal menjalankan fungsi sebagai pelindung dan pengayom bagi rakyatnya.
Berbeda dengan Islam, dalam Islam, pelaku perkosaan akan diganjar hukuman layaknya pezina. Bila belum menikah maka akan dikenakan seratus kali cambukan (QS an-Nur [24]: 2).
Bila telah menikah maka akan dirajam hingga mati. Bagi si penerima sanksi, sanksi itu akan bisa menjadi penebus atas dosanya di akhirat. Sanksi yang tegas dan keras ini sekaligus juga efektif menimbulkan efek jera dan mencegah orang melakukan perzinaan.
Pembunuh anak akan di-qishas, yakni balas dibunuh atau membayar diyat sebanyak 100 ekor unta.  Setiap anggota tubuh anak memiliki nilai diyat sama dengan orang dewasa.  Bagi yang melukai kemaluan anak kecil dengan persetubuhan dikenai 1/3 dari 100 ekor unta, selain hukuman zina.
Dengan diberlakukannya hukum syara’ tentu saja keselamatan anak akan terjaga. Baik mereka adalah anak-anak kaum muslim maupun bukan. Namun, penegakkan hukum syara’ perlu dukungan semua pihak, termasuk negara.
Karena itu, tak ada pilihan lain untuk melidungi umat selain adanya penegakan syariah dan khilafah dalam undang-undang. Wallahu’alam bissawab.
Oleh : Hanny Farhana
(fauziya/hidayatullah/muslimahzone.com)

Rabu, 26 Maret 2014

Kiat Memiliki Hati yang Unggul

“Hati adalah raja” ungkapan yang sudah sering kita dengar. Hati adalah raja yang dapat menggerakkan semua anggota tubuh kepada apa yang dikehendaki sesuai kondisinya, apakah ia sehat, tegar, lemah, atau sakit.
Hati yang sakit cenderung kepada hal-hal yang negative. Hati yang lemah tidak memiliki keyakinan yang kuat terhadap satu pekerjaan sehingga sang empunya tidak dapatoptimalmelakukannya.
Hati yang unggul adalah hati yang sehat dan tegar. Ia akan selalu membimbing seseorang kepada perilaku baik, tidak aniaya terhadap sesama, kerja keras, optimis dan tawakkal. Tidak mudah digoyahkan. Cacian dan hinaan manusia tidak akan berefek terhadap komitmennya.
Semua orang tentu ingin memiliki hati yang unggul ini. Berikut ini beberapa cara untuk memiliki hati yang unggul:
1. Memperkuat iman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan hari akhir.
Dengan cara banyak-banyak mengingat kematian serta balasan kebaikan dan keburukan setelahnya. Ibnu Mas’ud pernah berpesan, “Kalian berada di perlintasan siang dan malam, dalam ajal yang terus mendekat, dan amalan yang akan tetap dicatat. Sedangkan kematian akan datang tiba-tiba. Barangsiapa yang menanam kebaikan, maka ia akan memanen suatu yang menggembirakan. Dan barang siapa yang menanam keburukan, maka ia akan memanen penyesalan.” [Siyaru A’lamin Nubala’: I/497]
2. Takut kepada Allah.
Rasa takut kepada Allah akan menjadi kekuatan yang mencegah dari berlaku durhaka terhadap-Nya. Jika terjerumus ke dalamnya, rasa takut tersebut akan mendorongnya untuk mencari sebab ampunan dan kafarahnya, sehingga ia tidak berada dalam kemurkaan-Nya. Kemudian dia bertaubat, beristighfar, dan memperbanyak kebaikan agar menghapuskan kesalahan-kesalahannya.
3. Bergaul bersama orang-orang shaleh.
Nabiyulah Isa ‘alaihis salam pernahberkata, “Bergaulah bersama orang-orang yang apabila kalian melihatnya, maka kalian akan ingat kepada Allah. Dengan orang yang ucapannya akan menambah amalan kalian. Dengan orang yang amalannya akan memotivasi kalian dalam beramal untuk kehidupan akhirat.” [Al-Bayan watTabyin: III/87]
4. Mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Orang yang menginginkan agar hatinya selalu terjaga maka ia harus mengikuti sunnah-sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sebagaimana Imam Malik mengatakan, “Sunnah itu ibarat bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya akan selamat, barangsiapa yang tertinggal darinya maka ia akan tenggelam.”
5. Membaca Al-Qur’an.
Membaca Al-Qur’an merupakan Dzikir kepada Allah yang paling agung dan utama. Sedangkan hati akan tenang dengan berdzikir kepada-Nya. Terlebih, bahwa Al-Qur'an itu adalah kalamullah.
6. Memperbanyak do’a kepada Allah.
Sebagaimana do’a yang sering dibaca Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu." (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)
Intisemua ini, bahwa hati yang unggul itu adalah hati yang senantiasa terhubung dengan Allah. Orang yang hatinya terhubung dengan Allah tidak akan pernah gelisah, pesimis. Ia akan selalu optimis dan semangat melakukan aktivitas kebaikan, karena ia bagian dari ibadah yang menjadi sarana mendapatkan pahala dan keridhaan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Sabtu, 22 Maret 2014

Muslimah Smart

Muslimah itu kudu smart alias cerdas. Bukan hanya nilai ulangan Fisika dan Kimia yang tinggi itu disebut smart, tapi juga cara dia bergaul menentukan sekali smart atau tidaknya seorang muslimah. Yang namanya muslimah, identitas dia terlihat terutama dari cara berpakaian. Jelas donk, dia harus menutup auratnya kecuali muka dan telapak tangan. Nah, dalam posisi ini sang muslimah membawa nama Islam dalam seluruh perilakunya. So, watch out! Kamu kudu hati-hati.
Kenapa harus hati-hati? Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kamu tentu tahu dong kalau seusiamu ini, meleng sedikit bisa habis dimangsa serigala. Ya…serigala berbulu domba alias cowok yang terlihat manis padahal niatnya busuk untuk menjerumuskan kamu. Konon, masa-masa remaja itu adalah masa yang paling indah. Jadi bila jatuh cinta sedikit saja, maka serasa dunia milik berdua. Perasaan seperti inilah yang mudah dimanfaatkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab.
Itu sebabnya, dibutuhkan langkah-langkah jitu untuk menjadi muslimah yang smart. Kalau kamu smart, sulit untuk dibodohi apalagi dimanfaatkan atas nama cinta padahal nafsu yang merajalela. Nih, pantengin ya beberapa tips di bawah ini supaya kamu selamat dunia akhirat, insya Allah.

Smart = nggak kupeng
Kupeng alias kurang pengetahuan. Muslimah itu wawasannya harus luas. Bukan cuma gosip artis yang diurusin atau model baju terbaru yang diketahui. Gadget terbaru selalu update tapi hanya untuk main game atau bahkan nyari gebetan via facebook. Rajin di depan TV tapi sekadar mantengin acara musik atau FTV. Hadeuuh.. asli nyebelin!
Wawasan luas itu lebih ke pengetahuan yang mempunyai efek bagi bertambahnya keimanan dan kepedulian terhadap nasib umat ini. Misal nih, kamu tahu bahwa berkembangnya hormon yang menjadikan tertarik pada lawan jenis itu memang alami. Nah, yang penting untuk disikapi adalah kamu mau mengikuti nafsu tersebut dengan cara tidak halal yaitu berpacaran atau mengendalikannya dengan kegiatan yang bermanfaat. Muslimah smart tentu pandai memilih yang sesuai syariat, pastinya. Kondisi ini kamu sharing dengan teman-teman sesama muslimah untuk saling menguatkan dalam keimanan dan mengingatkan dalam kebaikan. Tuh, catet deh sama kamu!
Sobat gaulislam, nggak berhenti di situ saja, lho. Muslimah smart juga rajin mengikuti berita perkembangan dunia Islam baik di dalam maupun luar negeri. Mulai dari heboh mau pemilu di negeri ini, tuduhan terorisme yang merupakan setingan Amerika untuk memusuhi Islam hingga berita luar negeri seperti konflik di Suriah untuk perjuangan menegakkan kalimat Allah.
Penting sekali luasnya wawasan ini, supaya kamu tahu bahwa umat Islam dan problematikanya bukan hanya ada di Indonesia saja. Nasionalisme sempit yang ada juga nggak bakal berkembang ketika kamu melihat bahwa saudara muslim di belahan bumi lain juga membutuhkan pertolongan, dukungan, dana dan doa dari kita semua.
Wawasan muslimah smart juga bukan tentang masalah dunia saja. Atau sebaliknya, tahunya cuma masalah salat, puasa, zakat dan haji. Iya sih, itu memang wajib tahu. Tapi muslimah smart juga paham bahwa Islam bukan hanya soal itu saja. Islam itu kan the way of life alias jalan hidup. Jadi ya urusan dunia dan akhirat harus sama-sama paham dengan berimbang. Bukan hanya berat di salah satunya saja. Ini semua sudah pernah dicontohkan oleh generasi hebat sebelum kita kok. Mereka itu ibarat singa yang perkasa di siang hari (keperluan dunia) dan seperti rahib di malam hari (rajin ibadah). Lagipula, kedua hal tersebut ada nilai pahalanya sendiri-sendiri di hadapan Allah Ta’ala. Catet dan ingat-ingat, ya!

Smart = nggak kuper
Kuper alias kurang pergaulan. Ada loh muslimah itu yang rajin mengurung diri di kamar saja. Dia baik dan salihah tapi dipakai untuk diri sendiri. Dia cerdas tapi enggan berbagi. Seolah-olah surga untuk ditempati sendiri. Ih…semoga kamu bukan termasuk tipe ini ya.
Sebaliknya nih, ada muslimah yang rajin jalan-jalan di mal tapi untuk nongkrong dan cuci mata. Gabung di organisasi tapi dengan niatan mau cari pacar. Punya banyak teman tapi tidak membawa manfaat bagi perbaikan diri.
Kedua tipe di atas tak bisa dipilih. Muslimah smart itu tipenya peduli. Bukan hanya diri sendiri, tapi juga keluarga, teman, dan lingkungan. Banyak bergaul itu memang harus. Tapi bukan bergaul yang kebablasan sehingga cenderung bebas. Tetaplah ada rambu-rambu bagi seorang muslimah ketika melibatkan diri dalam kegiatan kemasyarakatan atau berorganisasi. Ini artinya, tetap kudu waspada.
Biar kata kamu harus banyak bergaul tapi ingat, bergaul yang syar’i itu harus kamu pahami. Becanda boleh-boleh saja tapi jangan kelewatan. Tetap tidak boleh ada unsur bohong atau menipu di dalamnya. Juga, tidak usah terlalu banyak. Ibarat garam dalam masakan, rasanya tak enak bila kebanyakan bukan? Bahkan, banyak tertawa itu bisa mematikan hati loh. So, tetap jaga imej bahwa kamu muslimah.

Smart = jaga kehormatan
Sobat gaulislam, kamu sekarang tahu kan bahwa seorang muslimah itu harus luas wawasannya dan juga ramah terhadap sesama. Berjilbabnya kamu bukan halangan untuk menyapa tukang becak yang juga tetanggamu. Menyapa secara ramah bukan berarti lebay atau keganjenan. Juga bukan secara kaku dan sok suci.
Kehormatan muslimah itu mahal harganya. Maka, dengan bekal pengetahuan dan pergaulan yang cukup, seorang muslimah menjadi tahu bagaimana harus bersikap dan berperilaku. Dia nggak akan jual obral dengan bergaul bebas khususnya pada lawan jenis. Ada batas-batas tertentu yang harus dipatuhi demi menjaga kehormatan muslimah sendiri.
Pertama nih, harus menutup aurat. Alhamdulillah banyak muslimah baik secara sadar atau karena pembiasaan dari orang tua, sudah menutup aurat dengan sempurna. Kerudung yang menutup kepala hingga menjulur ke dada beserta dengan jilbab yang merupakan baju longgar tanpa potongan rajin dipakai bila keluar rumah.
Kedua, menghindari khalwat atau berduaan dengan lawan jenis. Muslimah smart nggak akan coba-coba untuk melanggar aturan ini.
Ketiga, tidak berikhtilat atau campur baur dengan lawan jenis. Ikhtilat adalah lawan dari infishal (terpisah). Pada dasarnya, Islam telah mewajibkan pemisahan antara pria dan wanita. Pemisahan ini berlaku umum dalam kondisi apapun, baik dalam kehidupan umum maupun khusus, kecuali ada dalil-dalil yang mengkhususkannya. Pada dasarnya, ikhtilath itu dibenarkan dalam aktivitas-aktivitas yang diperbolehkan oleh syara’. Terutama aktivitas yang di dalamnya mengharuskan adanya interaksi (aktivitas dalam urusan yang kedua). Misalnya, bercampur baurnya laki-laki dan wanita dalam aktivitas jual beli, atau ibadah haji dan juga dalam masalah kesehatan.
Rambu-rambu di atas diberikan oleh Allah yang sangat mengetahui potensi manusia. Namanya saja dibuat oleh Yang Mahatahu jadi sudah pasti jaminan mutu. Jadi nggak bakal ada trial and error kayak hukum buatan manusia deh. Nah, semoga kamu pada paham ya.
Bila perempuan utamanya muslimah mau mengikuti aturan ini dengan baik dan benar maka fenomena cewek cabe-cabean seperti yang marak akhir-akhir ini nggak akan terjadi.

Smart = mau ngaji
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Ngaji di sini bukan sebatas membaca al-Quran tanpa tahu maknanya. Ngaji di sini adalah memahami Islam berdasar Quran dan sunah serta ijma sahabat. Sekali mengaji dengan benar, kamu akan merasa bahwa banyak sekali ilmu Islam yang masih belum kamu ketahui. Makanya kamu nggak boleh sombong dan enggan mendatangi majelis ilmu.
Orang yang sudah tua ngaji dan ingat akhirat, itu biasa. Mau kemana lagi tujuan hidup bila usia sudah senja. Betul tidak? Tapi bila usia masih muda, remaja lagi, masih unyu-unyu sudah rajin mengaji, itu baru luar biasa. Biarpun muda, siapa yang bisa tahu kapan ajal kan tiba? Jadi jangan menunggu tua deh untuk mengaji dan beribadah dengan serius.
Kalau sudah ngaji, kamu akan tahu bahwa menyebarkan apa yang telah kamu ketahui itu adalah wajib dan merupakan tabungan kebaikan.

Finally…
Muslimah smart dimulai dari diri kita. Nggak usah jauh-jauh mencari teladan. Nggak usah bingung mencari padanan. Sosok istimewa ini ada di dalam diri kita, kamu dan juga saya. Kita semua mempunyai potensi untuk menjadi muslimah smart.
Ahh…mana bisa? Aku kan nggak pintar fisika. Aku juga pemalu, nggak bisa menyapa orang dengan ramah. Aku juga nggak tahu apa-apa tentang pergaulan dalam Islam apalagi berita tentang nasib umat baik di Indonesia maupun di belahan bumi sana.
Jangan patah semangat dulu, sobat gaulislam. Semua langkah besar dimulai oleh langkah kecil dulu. Harus ada langkah pertama yang harus dilakukan. Bila kamu belum memenuhi syarat sebagai muslimah smart di atas, ayo ambil langkah pertama dulu. Niatkan kuat untuk berubah. Bismillah. Selanjutnya mulai berbenah. Bagi yang belum berhijab, ayo segera ditutup auratnya dengan kerudung dan jilbab. Bagi yang sudah berhijab tapi akhlak belum beres, ayo mulai dijaga suara tertawanya atau becandanya. Untuk kamu yang sudah oke berhijab dan akhlaknya, ingat-ingat apakah ketika kamu berjanji suka ingkar atau tidak. Suka ngomong yang menyakitkan hati orang lain atau tidak.
Bila ini sudah oke semua, beranjak ke hal yang lebih besar. Lihat temanmu, adakah yang memerlukan bantuan? Bila iya, segera bantu. Bila tidak, ayo luaskan sudut pandangmu. Galang kepedulian terhadap muslim lainnya. Jangan sampai ada teman atau tetanggamu yang tidak bisa makan di saat kamu kekenyangan. Atau ada muslimah yang tidak bisa berhijab karena tak mampu membeli kain untuk menutup aurat.
Nah, mudah kan menjadi muslimah smart itu? Mulai dari diri sendiri, saat ini, dan jangan tunda lagi. [ria | riafariana@gmail.com]

Rabu, 29 Januari 2014

As-Sabiqun al-Awwalun


As-Sabiqun Al-Awwalun (orng yang pertama kali masuk islam). Mereka merupakan dari golongan kaum Muhajirin dan Anshar, mereka semua sewaktu masuk Islam berada di kota Mekkah, sekitar tahun 610 Masehi pada abad ke-7. Pada masa penyebaran Islam awal, para sahabat nabi di mana jumlahnya sangat sedikit dan golongan as-sabiqun al-awwalun yang rata-ratanya adalah orang miskin dan lemah.
Antara mereka yang awal menerima dakwah atau pertama kali memeluk Islam ialah :
1.       Khadijah binti Khuwailid
2.       Zaid bin Haritsah
3.       Ali bin Abi Thalib
4.       Abu Bakar Al-Shiddiq
5.       Bilal bin Rabah
6.       Ummu Aiman
7.       Hamzah bin Abdul Muthalib
8.       Abbas bin Abdul Muthalib
9.       Abdullah bin Abdul-Asad
10.   Ubay bin Kaab
11.   Abdullah bin Rawahah
12.   Abdullah bin Mas'ud
13.   Mus'ab bin Umair
14.   Mua'dz bin Jabal
15.   Aisyah
16.   Umar bin Khattab
17.   Utsman bin Affan
18.   Arwa' binti Kuraiz
19.   Zubair bin Awwam bin Khuwailid
20.   Abdurrahman bin Auf
21.   Sa'ad bin Abi Waqqas
22.   Thalhah bin Ubaidillah
23.   Abdullah bin Zubair
24.   Miqdad bin Aswad
25.   Utsman bin Mazh'un
26.   Said bin Zayd bin Amru
27.   Abu Ubaidah bin al-Jarrah
28.   Waraqah bin Naufal
29.   Abu Dzar Al-Ghiffari
30.   Umar bin Anbasah
31.   Sa’id bin Al-Ash
32.   Abu Salamah bin Abdul Asad
33.   Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam
34.   Yasir bin Amir
35.   Ammar bin Yasir
36.   Sumayyah binti Khayyat
37.   Amir bin Abdullah
38.   Ja'far bin Abi Thalib
39.   Khabbab bin 'Art
40.   Ubaidah bin Harits
41.   Ummu al-Fadl Lubaba
42.   Shafiyyah
43.   Asma' binti Abu Bakr
44.   Fatimah bin Khattab
45.   Suhayb Ar-Rummi
              Khadijah, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Al-Shiddiq, Ummu Aiman, dan Bilal bin Rabah, merekalah orang yang pertama kalinya mengucap kalimat dua syahadat, lalu menyebar ke yang lainnya. Kesemuanya berasal dari kabilah Quraisy, kecuali Bilal bin Rabah.
          Pada awalnya golongan ini hanya terdiri dari kaum miskin dan lemah, kemudian setelah menempuh waktu semakin bertambah dan masuk beberapa orang dari lapisan golongan masyarakat, yang terdiri dari pemuka adat, pemimpin suku, panglima perang, ibu rumah tangga, anak-anak, majikan, saudagar, pengusaha, pedagang, petani, peternak binatang, pelayan rumah tangga, orang merdeka, budak. Para budak banyak yang tertarik dengan prinsip yang diajarkan oleh Islam, yaitu tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah, Rasulallah mempersaudarakan sebagian muslim dari golongan aristokrat Quraisy dengan sekelompok muslim lain yang dari golongan budak. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, kuat maupun lemah, merdeka maupun budak, Arab maupun non-Arab, semua setara. Menurut Islam, Allah tidak pernah melihat umat-Nya berdasarkan profesi/ pangkat dan jabatan seseorang, yang Allah nilai hanya iman dan taqwa hamba-Nya.

Random Post

Label 5

footer

About Us

tabber

sideCategory2

Links

Comments

Like Us

Label 6

Label 5

Featured Post 8

Label 6

Label 1

Label 2

Label 3

Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Trending Topic

Followers

Search This Blog

Memuat...

Content left

Content right

Content right

 

© 2013 KIR | Kajian Islam Remaja. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top